Monday, June 19, 2006

Islam Inklusif - Adian Husaini

Tahun 2004 Fatimah menyelesaikan gelar doktornya. Baru-baru ini, ia menerbitkan disertasinya dengan judul “Muslim-Christian Relations in The New Order Indonesia:The Exclusivist and Inclusivist Muslims’ Perspectives”.

Ketika wawancara, saya sudah menolak penggunaan kategorisasi “Eksklusif dan Inklusif” untuk memetakan persepsi kaum Muslim terhadap masalah hubungan Islam-Kristen di Indonesia. Saya mengajukan istilah “Muslim Komprehensif” dan “Muslim Reduksionis”. Tapi, Fatimah menolak menggunakan sebutan itu. Ia tetap berpegang pada kategorisasi yang diajukannya. Akhirnya, ia terjebak ke dalam kesalahan yang fatal dalam kategorisasi kaum Muslim yang dia teliti.

Sebagai contoh, ia menyebut organisasi-organisasi eksklusivis di Indonesia adalah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Front Pembela Islam (FPI), dan Laskar Jihad. Orang-orang yang dia cap sebagai eksklusivis diantaranya adalah Husein Umar, Ahmad Sumargono, Adian Husaini, Habib Rizieq Shihab, dan Ja’far Umar Thalib.

Sedangkan tokoh inklusivis adalah Nurcholish Madjid, Zainun Kamal, Azyumardi Azra, Budhy Munawar Rahman, dan sebagainya.

Diantara ciri-ciri kaum eksklusif, menurut dia;

(1) mereka menerapkan model penafsiran literal terhadap Al-Qur'an dan Sunnah dan berorientasi masa lalu. Karena menggunakan pendekatan literal, maka ijtihad bukanlah hal yang sentral dalam kerangka berpikir mereka; (2) mereka berpendapat bahwa keselamatan hanya bisa dicapai melalui agama Islam. Bagi mereka, Islam adalah agama final yang datang untuk mengoreksi agama-agama lain. Karena itu mereka menggugat otentisitas Kitab suci agama lain.

Sedangkan yang dia masukkan sebagai kaum Inklusif, memiliki ciri-ciri:

(1) Karena mereka memahami Islam sebagai agama yang berkembang, maka mereka menerapkan metode kontekstual dalam memahami al-Quran dan Sunnah, melakukan reinterpretasi teks-teks asas dalam Islam, dan ijtihad berperan sentral dalam pemikiran mereka (2) Kaum Inklusif memandang, Islam adalah agama terbaik bagi mereka; namun mereka berpendapat bahwa keselamatan di luar agama Islam adalah hal yang mungkin.

Catatan saya ( R ) :

Masuk Surga Melalui Islam Inklusif

MASUK SURGA MELALUI ISLAM INKLUSIF

Bolehkah Siapa Saja Menafsirkan Siapa Saja Yang Boleh Masuk Surga
Penganut paham ‘Islam inklusif’ membuka peluang kebebasan dalam perbedaan penafsiran Al Qur’an dan Hadits. Penafsiran secara bebas berarti membolehkan setiap orang dengan berbagai latar belakang kemampuan dan tingkat penguasaan ilmu Islam untuk berijtihad menafsirkan ajaran agama. Kalangan awam (yang bukan tergolong ‘intelektual muslim’ ) dari kaum penganut ‘Islam inklusif’ bahkan tidak bisa membedakan antara istilah menafsirkan dengan menterjemahkan atau membaca terjemahan Al Qur’an. Padahal untuk berijtihad ada berbagai persyaratan yang harus dikuasai seseorang, antara lain sejarah turunnya ayat dan hadits, ilmu bahasa arab, sifat-sifat nabi, dll. Untuk berijtihad sendiri ada tingkatannya jenisnya, ada yang siapa saja orang dewasa bisa dan mudah melakukannya, ada pula yang lebih sulit, makin berat tingkat ijtihad seseorang maka semakin besar persyaratan pantas tidaknya ia melakukan ijtihad. Contohnya, seorang ahli kebidanan tentu tak proporsional bila ber’ijtihad’ tentang solusi masalah ekonomi dan perbankan, atau seorang yang spesialisasinya dibidang filsafat Islam tentunya akan kurang mampu melakukan ijtihad mengenai masalah fiqih atau aqidah Islam. Kalangan ‘intelektual’ dari penganut ‘Islam Liberal dan Pluralisme umumnya dari latar belakang pendidikan ilmu filsafat dan mereka nekat mengeluarkan ‘fatwa’ mengenai fiqih Islam, misalnya dibolehkannya perkawinan muslim dengan non muslim. Bahkan mereka berijtihad menentukan berbagai kalangan luas, dari berbagai agama, yang diperkirakan juga bakalan masuk surga.

Bolehkah Siapa Saja Menafsirkan Kira-kira Apa Yang Dimaui Oleh Tuhannya ?
Menurut penganut paham ‘Islam Inklusif’ perbedaan penafsiran dan paham dalam Islam dibolehkan bahkan sangat dibolehkan. Menurut mereka ini untuk kemajuan Islam sendiri. Salah satu hasil ‘ijtihad’ mereka adalah bahwa Islam dianggap sebagai agama yang bermacam-macam (berwarna-warni) yang semuanya (paham, mazhab dan alirannya) ditujukan untuk tujuan kebaikan yang sama. Kalangan ‘Islam inklusif’ yang lebih liberal bahkan mengatakan agama yang bermacam-macam (Islam, Kristen, Yahudi, dll) semuanya menuju kebaikan yang sama pula, dan sama-sama berpeluang masuk surga. Perbedaan pendapat yang bukan menyangkut aqidah dan ibadah masih dibolehkan, karena aqidah harus satu dan sama. Ibadah juga sama, kalau berbeda bisa menjadi bid’ah, sedang bid’ah sangat dilarang. Sedikit melenceng dalam cara beragama saja berpeluang menjadi murtad, dan ‘selingkuh’ dengan ‘tuhan’ lain saja dianggap syirik dalam Islam, sedang syirik adalah jalan menuju kemurtadan.
Aqidah adalah hal yang pokok yang membedakan Islam dengan agama lainnya. Aqidah adalah fondasi bangunan seorang umat Muslim, sedang ibadah (syariah) adalah dinding bangunan seorang Muslim, lalu akhlak adalah atapnya. Tanpa fondasi maka ia pun tidak bisa mendirikan bangunan diri seorang Muslim, tanpa aqidah yang benar dan lurus iapun tidak pantas disebut seorang Muslim. Tanpa ibadah yang sesuai syariah Islam, iapun belum sempurna untuk dikatakan sebagai sebuah bangunan yang bernama Muslim. Demikian pula, tanpa Atap yang bernama akhlak, bangunan yang bernama Muslim ini belum utuh dan akan mudah rusak oleh hujan dan panas. Muslim yang baik wajib memiliki ketiga syarat ini (aqidah, ibadah dan akhlak) secara lengkap, tidak kurang satupun, dan harus sempurna. Bila aqidahnya salah, maka kekal lah ia di neraka, bila ibadah dan akhlak buruk maka ia ‘mungkin’ masih berpeluang masuk surga setelah di’cuci’ dulu di neraka. Semoga kita tidak termasuk sebagai orang yang di’cuci’ dulu, apalagi kekal, di neraka. Semoga mumpung kita masih hidup di dunia ini kita diberi ilmu oleh Allah SWT mengenai kedahsyatan akhirat dan neraka, supaya kita tidak menggampangkan diri untuk menganggap bahwa di’cuci’ di neraka adalah bukan masalah besar. Naudzu billah min dzalik.

Penganut paham ‘inklusif’ (yang melahirkan paham pluralisme dan liberalisme dalam Islam) kemudian membolak-balikkan konsep bangunan diri seorang Muslim. Mereka meletakkan akhlak sebagai fondasi, sedang aqidah dan syariah (ibadah) sebagai dinding dan atap. Dengan pembolak-balikan ini, akhirnya mereka berpendapat bahwa untuk menjadi ‘Muslim’ yang benar haruslah memiliki fondasi yang kokoh yaitu (kata mereka) akhlak. Lalu mereka menganggap aqidah dan ibadah menjadi tidak penting. Akibat teori konsep bangunan diri seorang Muslim yang dibolak-balik ini, maka sampailah mereka pada kesimpulan berbentuk ’fatwa’ bahwa : “semua agama adalah sama, karena sama-sama mengajarkan kebaikan (akhlak), dengan akhlak lah kita masuk surga, adanya berbagai macam agama hanyalah media dan cara untuk melakukan kebaikan untuk Tuhan yang sama” . Itulah salah satu karya ‘ijtihad’ sesat kaum penganut paham ‘Islam Inklusif’ . Alangkah bodohnya bila kita termasuk salah satu diantara mereka.

Takutlah pada Allah.


Kategorisasi sang doktor dari Melbourne tentang Islam Eksklusif dan Islam Inklusif itu jelas-jelas kacau dan semaunya sendiri. Dia sudah terjebak dalam pola berpikir dikotomis “literal-kontekstual” dalam metodologi tafsir Bible. Padahal, tidak mungkin seorang Muslim dalam berijtihad terlepas dari teks dan sekaligus dari konteks.

Jika dicermati sejumlah tulisan Nurcholish Madjid dan Budhy Munawar Rahman, mereka sudah masuk kategori Pluralis – yang menyatakan semua agama sama-sama benar dan sebagai jalan yang sah menuju Tuhan – dan bukan inklusif lagi.

Menuduh kaum yang disebutnya sebagai ‘Islam eksklusif’ tidak menjadikan ijtihad sebagai sentral berpikir mereka, adalah tuduhan yang kurang ajar dan sama sekali tidak ilmiah. Sebaliknya, menyebut pemikiran-pemikiran Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, Budhy Munawar Rahman sebagai bentuk ijtihad, juga merupakan cara pandang yang sembrono dan amburadul.

Hingga kini, orang-orang itu belum menulis satu buku pun tentang metodologi ijtihad, dan belum layak mendapat gelar “mujtahid”. Hanya karena berpikir sesuai dengan selera ‘liberal-sekular’ lalu dibilang “berijtihad”.

Selain itu, jika si doktor itu membaca kembali diskursus tentang “keselamatan” di kalangan para ulama ushuluddin, maka tidak perlu menulis kriteria seperti itu. “Kebenaran” Islam dan “keselamatan” pemeluk agama Islam atau non-Islam adalah dua masalah yang berbeda.

Dalam diskusi tentang “fathrah”, hal ini banyak dibahas. Tetapi, sejak dulu, para ulama Islam tidak pernah berbeda pendapat bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. MUI sendiri, dalam fatwanya tentang Pluralisme Agama, menegaskan, bahwa dalam masalah aqidah dan ibadah, umat Islam wajib bersifat eksklusif.

Secara ilmiah, kategorisasi Islam eksklusif-Islam Inklusif model dosen UIN Yogya itu kacau-balau. Kategorisasi ini lebih bisa dimengerti dalam konteks proyek pesanan untuk melakukan stigmatisasi terhadap kelompok atau orang Muslim tertentu yang tidak disukai oleh ‘sang donor ‘penelitiannya, sehingga diberikanlah cap-cap dan sifat negatif serta peyoratif kepada kaum Muslim tertentu yang tidak disukainya.

Kita paham dengan pola kajian Orientalis semacam ini. Sayangnya, mengapa ada ilmuwan dari kalangan Muslim yang mau melakukan hal semacam ini, dengan imbalan duniawi yang sangat murah – sekedar beberapa keping dolar dan gelar doktor.

Harusnya, para cendekiawan yang mendapat kesempatan studi Islam di Barat memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya untuk kepentingan Islam. Bukan malah sebaliknya, terjebak dalam kerangka pikir Orientalisme untuk menghancurkan Islam. Na’udzubillah. (Jakarta, 11 November 2005/hidayatullah.com).


Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini adalah kerjasama Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com
< Sebelumnya
Selanjutnya >

1 Comments:

At 6:47 AM, Blogger sapar said...

trimakasih mas tulisannya sangat membantu buat ujian besok ...........

salam kenal

 

Post a Comment

<< Home